NEWS
Pandemi Makan Korban, Pengembang Ajukan PKPU & Pailit
JAKARTA — Sudah 6 bulan sejak awal Maret pandemi Covid-19 melanda Indonesia dan membuat para pengembang properti terdampak.
 
Pengembang pun ada yang mampu bertahan dan ada yang tidak. Bagi yang tidak pun, mereka yang kesulitan mengajukan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) hingga pailit.
 
Ketua Umum DPP Persatuan Perusahaan Real Estat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida menuturkan bahwa saat ini terdapat anggota REI yang mengajukan PKPU dan pailit.
 
"Ada, jumlah berapa ya, saya tidak bisa memberitahukan. Ada yang saat ini pailit," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (22/9/2020).
 
Dia berharap agar pada masa pandemi Covid-19, pengembang agar tidak mengajukan gugatan baik itu PKPU maupun pailit. Hal ini untuk menjaga sektor properti yang tengah tertekan akibat pandemi Covid-19.
 
Dia mengimbau agar pihak yang merasa dirugikan tak langsung menggugat perusahaan properti ke pengadilan bila menghadapi masalah pembangunan maupun pembayaran properti.
 
Pasalnya, gugatan pailit tidak hanya merugikan pengembang, tetapi juga konsumen. Jika gugatan pailit dikabulkan pengadilan, perusahaan dan asetnya akan dilikuidasi dengan nilai yang jauh di bawah pasaran.
 
"Kalau dua orang sudah bisa mengajukan gugatan pailit, sedangkan end user-nya ribuan. Ada yang memproses mengajukan pailit untuk meminta imbalan. Ada juga perusahaan yang sudah tidak tahan dengan kondisi yang ada akibat pandemi mengajukan pailit. Saya berharap ajuan pailit ini dapat ditunda dahulu di masa pandemi," tutur Paulus.
 
Saat ini, ujarnya, para pengembang tengah menjaga arus kas agar bisa membayar kewajiban yang tengah berjalan di tengah perolehan pendapatan yang sedikit.
 
Sementara itu, Ketua Umum DPP Apernas Jaya Andre Bangsawan mengatakan bahwa hingga kini tak ada anggotanya yang mengalami pailit. Anggota Apernas terus menjaga arus kas yakni dengan melakukan negosiasi kepada perbankan untuk meminta keringanan selama masa pandemi.
 
"Bagi yang masih mampu membayar kewajiban diminta keringanan untuk membayar bunga. Bagi yang enggak bisa bayar minta penangguhan. Klimaksnya adalah melakukan restrukrisasi," katanya.
 
 
Yanita Petriella 
Editor : Zufrizal
Sumber: bisnis.com 22 September 2020  |  19:50 WIB
 
 
DEDY ARDIAN & PARTNERS
Gedung Arva Lt.3
Jl. Cikini Raya No. 60, Jakarta 10330
Tel : +62 21 314 7154
Fax : +62 21 390 3994
Mobile : +62 0811 903 286
E-mail : deape.prasetyo@gmail.com

Copyright © 2014. All Rights Reserved
Link Sosial Media